Timer

Minggu, 30 Oktober 2011

10 Cara Menjadi Pintar


Belajar mendadak menjelang ujian memang tidak efektif. Paling nggak sebulan sebelum ulangan adalah masa ideal buat mengulang pelajaran. Materi yang banyak bukan masalah. Ada sepuluh cara pintar supaya waktu belajar kita menjadi efektif.
1. Belajar itu memahami bukan sekedar menghapal
Ya, fungsi utama kenapa kita harus belajar adalah memahami hal-hal baru. Kita boleh hapal 100% semua detail pelajaran, tapi yang lebih penting adalah apakah kita sudah mengerti betul dengan semua materi yang dihapal itu. Jadi sebelum menghapal, selalu usahakan untuk memahami dulu garis besar materi pelajaran.
2. Membaca adalah kunci belajar
Supaya kita bisa paham, minimal bacalah materi baru dua kali dalam sehari, yakni sebelum dan sesudah materi itu diterangkan oleh guru. Karena otak sudah mengolah materi tersebut sebanyak tiga kali jadi bisa dijamin bakal tersimpan cukup lama di otak kita.
3. Mencatat pokok-pokok pelajaran
Tinggalkan catatan pelajaran yang panjang. Ambil intisari atau kesimpulan dari setiap pelajaran yang sudah dibaca ulang. Kata-kata kunci inilah yang nanti berguna waktu kita mengulang pelajaran selama ujian.
4. Hapalkan kata-kata kunci
Kadang, mau tidak mau kita harus menghapal materi pelajaran yang lumayan banyak. Sebenarnya ini bisa disiasati. Buatlah kata-kata kunci dari setiap hapalan, supaya mudah diingat pada saat otak kita memanggilnya. Misal, kata kunci untuk nama-nama warna pelangi adalah MEJIKUHIBINIU, artinya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.
5. Pilih waktu belajar yang tepat
Waktu belajar yang paling enak adalah pada saaat badan kita masih segar. Memang tidak semua orang punya waktu belajar enak yang sama lo. Tapi biasanya, pagi hari adalah waktu yang tepat untuk berkonsentrasi penuh. Gunakan saat ini untuk mengolah materi-materi baru. Sisa-sisa energi bisa digunakan untuk mengulang pelajaran dan mengerjakan pekerjaan rumah.
6. Bangun suasana belajar yang nyaman
Banyak hal yang bisa buat suasana belajar menjadi nyaman. Kita bisa pilih lagu yang sesuai dengan mood kita. Tempat belajar juga bisa kita sesuaikan. Kalau sedang bosan di kamar bisa di teras atau di perpustakaan. Kuncinya jangan sampai aktivitas belajar kita mengganggu dan terganggu oleh pihak lain.
7. Bentuk Kelompok Belajar
Kalau lagi bosan belajar sendiri, bisa belajar bareng dengan teman. Tidak usah banyak-banyak karena tidak bakal efektif, maksimal lima orang. Buat pembagian materi untuk dipelajari masing-masing orang. Kemudian setiap orang secara bergilir menerangkan materi yang dikuasainya itu ke seluruh anggota lainnya. Suasana belajar seperti ini biasanya seru dan kita dijamin bakalan susah untuk mengantuk.
8. Latih sendiri kemampuan kita
Sebenarnya kita bisa melatih sendiri kemampuan otak kita. Pada setiap akhir bab pelajaran, biasanya selalu diberikan soal-soal latihan. Tanpa perlu menunggu instruksi dari guru, coba jawab semua pertanyaan tersebut dan periksa sejauh mana kemampuan kita. Kalau materi jawaban tidak ada di buku, cobalah tanya ke guru.
9. Kembangkan materi yang sudah dipelajari
Kalau kita sudah mengulang materi dan menjawab semua soal latihan, jangan langsung tutup buku. Cobalah kita berpikir kritis ala ilmuwan. Buatlah beberapa pertanyaan yang belum disertakan dalam soal latihan. Minta tolong guru untuk menjawabnya. Kalau belum puas, cari jawabannya pada buku referensi lain atau internet. Cara ini mengajak kita untuk selalu berpikir ke depan dan kritis.
10. Sediakan waktu untuk istirahat
Belajar boleh kencang, tapi jangan lupa untuk istirahat. Kalau di kelas, setiap jeda pelajaran gunakan untuk melemaskan badan dan pikiran. Setiap 30-45 menit waktu belajar kita di rumah selalu selingi dengan istirahat. Kalau pikiran sudah suntuk, percuma saja memaksakan diri. Setelah istirahat, badan menjadi segar dan otak pun siap menerima materi baru.
Satu lagi, tujuan dari ulangan dan ujian adalah mengukur sejauh mana kemampuan kita untuk memahami materi pelajaran di sekolah. Selain menjawab soal-soal latihan, ada cara lain untuk mengetes apakah kita sudah paham suatu materi atau belum. Coba kita jelaskan dengan kata-kata sendiri setiap materi yang sudah dipelajari. Kalau kita bisa menerangkan dengan jelas dan teratur, tak perlu detail, berarti kita sudah paham.

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Selasa, 25 Oktober 2011

Farrah Gray - Milyarder Termuda Sejak Umur 14 Tahun

Farrah Gray adalah seorang anak yang berasal dari kalangan minoritas di Amerika, dan sekarang pun ia masih menjadi bagian dari kalangan minoritas. Bedanya, kalau dahulu Gray adalah seorang keturunan Afrika-Amerika miskin, yang merupakan minoritas di Amerika, maka sekarang ia telah menjelma menjadi milyarder muda, yang juga merupakan minoritas di dunia ini, karena ia telah menjadi bagian dari 1% penduduk dunia yang menguasai peredaran uang. Perjalanan Gray menuju kesuksesan bisa dibilang begitu “instant”. Tapi, mungkin lebih tepat lagi kalau disebut “ngebut”, karena ia benar-benar mencapai impiannya dengan usahanya sendiri, dan tentunya dukungan dari keluarga dan rekan-rekannya. Gray ialah seorang anak muda yang begitu menginspirasi banyak orang. Dahulu, pria kelahiran tahun 1984 ini tinggal bersama keluarganya di sebuah apartemen kelas bawah, yang toiletnya sering macet dan banyak dihuni kecoak. Rasa sayangnya terhadap keluarga membuatnya ingin memberi yang terbaik bagi mereka, seperti apa yang sering ia lihat di layar televisi.
Pikiran Farrah Gray yang sudah begitu berpandangan ke depan membuatnya berkeputusan untuk mencari uang dengan cara berjualan ketika berusia 6 tahun. Apa yang ia jual waktu itu pun cukup sederhana, yaitu batu yang ia lukis sendiri sebagai ganjalan pintu. Ia berjualan keliling dari rumah ke rumah, dan bahkan membuat kartu namanya sendiri. Di dalam kartu nama tersebut, ia menyebut dirinya sebagai “CEO Abad 21”.
Suatu saat, ia memberi kartu namanya pada seseorang yang bernama Roy Tauer. Tentu saja ia terkesan dengan kartu nama bertuliskan “CEO Abad 21” yang dimiliki oleh seorang anak yang berusia sekitar 8 tahunan waktu itu. Tauer kemudian melihat adanya ambisi entrepreneurship dalam diri Gray, sehingga ia mengajaknya mendirikan sebuah klub bisnis yang diberi nama U.N.E.E.C ( dibaca Unique, singkatan dari Urban Neighborhood Economic Enterprise Club). Klub itu sendiri adalah sebuah organisasi yang mendorong anak-anak muda menjadi pengusaha.
Perjalanan bisnis Farrah Gray terus saja mengalir, dan bahkan Gray berhasil memiliki kantor di Wall Street, sehingga ia menjadi orang termuda di sana!
Di usianya yang ke-11, Farrah Gray kemudian mendapat wawancaranya yang pertama di KVBC Channel 3. Tiga tahun kemudian, di usianya yang ke-14, Gray secara resmi berhasil menjadi seorang milyarder muda dari penjualan yang menembus $1.5 juta dolar dari perusahaan Farr-Out Food miliknya. Kerajaan bisnisnya bertambah lagi ketika ia mengakuisisi majalah Innercity di usia 19 tahun.
Berkat kiprah Farrah Gray dalam bidang bisnis dan juga kepemimpinan & integritasnya, ia mendapat gelar Doktor kehormatan dari Allen University. Buku-buku yang ditulisnya pun laris manis, dan buku yang melambungkan namanya yang berjudul Reallionaire telah dipuji berbagai kalangan, termasuk mantan presiden A.S. Bill Clinton serta pengarang Chicken Soup For The Soul, Jack Canfield dan Mark V. Hansen.
Dengan berbagai prestasinya yang luar biasa dan usianya yang masih muda itu, Gray tentunya masih memiliki banyak cita-cita. Gray mengatakan bahwa tujuan hidupnya adalah untuk terus tumbuh, berkembang, dan memberi sumbangan atau kontribusi pada masyarakat. Jiwa sosialnya ini telah ia buktikan dengan berdirinya Farrah Gray Foundation, sebuah yayasan yang fokus pada pendidikan entrepreneurship bagi anak muda, di mana ia menyumbangkan honornya sebagai seorang pembicara.
Farrah Gray adalah seorang pemuda yang dinamis dan optimis, yang senantiasa percaya akan kata-kata neneknya yang berbunyi:

“’If better is possible, than good is just not enough.” (Jika kita bisa melakukan yang lebih baik, maka bagus saja belum cukup.)

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Minggu, 23 Oktober 2011

Aristoteles Onassis - Milyarder Sukses Yang Berawal Dari Kekurangan dan Kegagalan


Aristoteles Onassis dilahirkan pada tanggal 20 Januari 1906 di Simyrna, sebuah kota Yunani yang makmur di pantai Barat Turki. Konon, ia lahir dari sebuah keluarga miskin, yang hidupnya selalu kekurangan. Konon, ayahnya adalah penjaja dagangan buatan sendiri dari pintu ke pintu, dan ibunya pembantu rumah tangga. Onassis tidak pernah mencoba meluruskan pendapat orang banyak tentang masa lalunya, sekurang-kurangnya dimuka umum, karena kisah-kisah seperti itu biasanya malah menambah cemerlang aura misteri yang mengelilingi dirinya. Ia selalu menyadari pentingnya citra diri seseorang dalam meraih sukses, suatu hal yang akan kita bicarakan lagi nanti.
Dalam kenyataan, ayah Onassis adalah seorang pedagang grosir yang berkecukupan dan mempunyai nama sebab ia juga menjabat presiden sebuah bank dan rumah sakit setempat. Namun Onassis bukan ahli waris kekayaan ayahnya, dan ia menjadi kaya karena kekayaan keluarganya. Seperti yang akan kita lihat, ia pergi ke Amerika Serikat ketika terjadi pertikaian keluarga selagi ia berumur 17 tahun. Ia membawa bekal $450 dalam sakunya, itu pun hanya $250 adalah uang dari keluarganya. Ayahnya dengan enggan memberikan uang sebanyak itu yang baru diberikan pada saat akan terpisah, sebab ia tidak setuju dengan kepergiannya. Ayah dan anak memang tidak pernah akrab, suatu hal yang aneh di antara keluarga Yunani di tanah air. Ayah Onassis yang dibesarkan pada sebuah pertanian dengan susah payah mengumpulkan kekayaan.
Wataknya sangat disiplin dan keras. Walaupun selalu sadar akan rasa tanggung-jawab, ia bukanlah seorang yang dapat disebut hangat dan menarik. Segera Onassis memberontak terhadap setiap bentuk disiplin. Sejak anak sampai remaja ia banyak menimbulkan keributan dan geger, duri di mata ayahnya. Hubungan mereka bertambah rumit lagi karena suatu kenyataan lain. Ibunya, Penelope, meninggal ketika Onassis baru berumur enam tahun. Hanya 18 bulan sesudah itu ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita bernama Helen. Onassis memandang ibu tirinya sebagai orang lain yang menyelundup, dan karenanya wanita ini tidak mendapat tempat sedikit pun di hatinya. Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya. Salah seorang gurunya berkata: Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi gara guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang.
Walaupun raport Ari di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Mungkin anekdot berikut dapat menerangkan. Salah seorang temannya yang telah merancang sebuah kitiran kecil, sebuah mainan sederhana yang terdiri atas baling-baling kertas berpasak jarum yang ditancapkan pada sepotong kayu. Bangga atas prestasinya, anak itu dengan berani membuat beberapa buah dan mencoba menjualnya.
Sebuah kisah lain menggambarkan bakat bisnis Onasis pada masa mudanya. Pada suatu hari, suatu kebakaran terjadi di gudang sekolah di kota tempat kelahirannya. Onasiss membeli seonggok pinsil bekas kebakaran itu dengan harga murah. Ia menanamkan sedikit
modal dengan membeli dua ala peruncing pinsil. Ia, berdua dengan temannya, mulai membersihkan bagian-bagian pinsil yang hangus. Kemudian ia menjual pinsil-pinsil itu kembali kepada teman-teman di sekolah dengan harga sangat murah, namun tetap memberikan untung cukup besar. Mungkin contoh ini biasa-biasa saja, tetapi justru pekerjaan seperti inilah kelak bisnis besar Onassis. Ia memperbaiki kapal-kapal laut yang rusak dan membuatnya layak melaut, dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih tinggi, tentu saja. Di sekolah, waktu berjalan terus, tetapi Onassis tidak bertambah maju. Tahun 1922 mulai tidak menyenangkan. Banyak teman sekelasnya pergi untuk menuntut ilmu di universitas-universitas besar di Eropa. Tetapi Onassis sendiri tidak lulus.
Masa depan tampak suram baginya. Beberapa hari setelah upacara penyerahan ijazah, salah seorang temannya melihat Onassis berjalan tanpa tujuan di taman kota. Ia mencoba menghibur hati Onassis. Pada tahun 1922, invasi Turki menimbulkan bayangan gelap pada masa remaja Onassis yang penuh gejolak. Smyrnba diduduki dan warga kota dibabat habis tanpa belas
kasih. Ayah Onassis, seorang tokoh yang terkenal luas, dipenjarakan dan Ari menjadi kepala rumah tangga pada usia 16 tahun. Ini masa yang sulit baginya. Dan pada masa ini ia
menerapkan kehebatannya sebagai diplomat dan kemampuannya untuk bertahan dalam keadaan apa pun.
Masa yang sulit ini justru merupakan pengalaman yang tepat untuk membentuk wataknya. Onassis mendarat di Buenos Aires pada tanggal 21 September 1923. Bawaannya sebuah koper tua dan uang sebanyak $450. Tetapi di dalam dirinya ia membawa bekal
yang lebih berharga: tekad keras untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa ia mampu menjadi kaya tanpa bantuan ayahnya. Rasa percaya diri ini akan dibawanya sepanjang
hayatnya. Tanpa diploma, tanpa pekerjaan, uang dan koneksi orang berpengaruh, Onassis terpaksa mulai dengan melakukan aneka pekerjaan kasar. Ia menjadi kenek tukang
batu, kuli pengangkut bata pada suatu proyek pembangunan, tukang cuci piring di restoran, dan akhirnya menjadi magang instalator listrik di River Plate United Telepchone Co. Bagi
seseorang dengan ego yang sehat seperti dia, ini bukan prestasi yang pantas.
Akhir tahun 1922 menandai suatu keputusan besar bagi kehidupan Onassis. Kegagalan pertamanya sebagai pemilik kapal tidak membuat ia mundur untuk tetap menanamkan uang dalam sektor itu. Ia sudah gandrung akan perkapalan. Ia tergerak oleh keyakinan batin bahwa kapal sajalah yang akan membawa dia ke jenjang sukses. Maka, dikumpulkannya semua uang miliknya, yang waktu itu sudah lumayan, lalu berangkat ke London. Ia baru berusia 26 tahun.
Ia telah dikenal karena reputasinya sebagai seorang usahawan yang berani, apalagi setelah penunjukannya sebagai Konsul Jenderal Yunani di Buenos Aires. Namun fungsi diplomatik ini tidaklah menyita banyak waktunya.
Pasar, yang menderita berat akibat jatuhnya pasar modal Wall Street tahun 1929, memberikan kesempatan baikbagi para penanam modal. Kapal-kapal menjadi murah, jauh di bawah harga semula. Langkah paling baik adalah membeli kapal-kapal berusia 10 tahunan. Kapal sebesar sembilan ton yang semula harganya $1.000.000, kini hanya laku dijual $20.000, kira-kira seharga sebuah Rolls-Royce. Apa yang dilakukan Onassis selagi masih kanak-kanak kini akan terulang, tetapi barang bekasnya adalah kapal.
Walaupun kini bisnisnya di London. Onassis membeli kapal pertamanya, dua buah kapal tua masing-masing seharga $20.000, di Montreal. Kedua kapal yang bernama 12 Miller dan Spinner, diganti namanya menjadi Onassis Socrates dan Onassis Penelope, sebagai tanda
penghormatan kepada kedua orang tuanya. Untuk mendapatkan untung dalam bisnis perkapalan, pentinglah memperhatikan turun naiknya biaya muatan dan membuat keputusan yang tepat. Onassis mampu dalam hal ini. Lebih dari itu, ia seorang optimis yang tak pernah
mundur. Dengan sifat petualang dan keberaniannya, ia segera menonjol di antara pemilik-pemilik kapal Yunani lain yang berpangkalan di London, karena tidak seperti mereka, ia
tidak mempunyai pemikiran tentang krisis ekonomi. Mereka, ia tidak takut menanamkan uangnya.
Kegesitan dan diplomasi bawaannya dengan cepat mengantar dia ke kalangan masyarakat kelas tinggi. Tidak boleh dilupakan, salah satu pelicin jalan dalam kenaikannya ke kelas elit adalah hubungan dengan salah satu wanita simpanannya yang pertama, si cantik dari Norwegia Ingeborg Dedichen, putri seorang pemilik kapal yang terkenal.
Pada penghujung tahun 1947, Onassis melewati ambang lain dalam kariernya yang gemilang. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia akan mulai secara sistematis menerapkan prinsip yang dikenal sebagai OPM (Other People’s Money, Uang Orang Lain UOL), dengan meminjam
kepada Metropolitan Life Insurance Company sebesar $40 juta untuk membangun kapal-kapal baru. Sebagai siasat ia menggunakan sebuah perusahaan minyak sebagai mitra. Onassis akan mengangkut minyak mereka dan kontraknya akan tetap berlaku sampai habisnya batas waktu utang. Karena perusahaan minyak pada waktu itu sangat terandalkan, meminjam atas nama perusahaan itu sangat mudah. Dalam arti tertentu, badan keuangan meminjamkan uang kepada perusahaan minyak, bukan kepada Onassis. Onassis sering mengingat masa itu dengan berbangga diri.
Dikatakannya bahwa perusahaan minyak yang kaya itu dalam hubungan dengan kapal-kapal Onassis adalah ibarat seorang penyewa dengan rumah yang dihuninya dengan membayar
uang sewa. Kalau yang menyewa adalah Rockefeller, tidak menjadi soal apakah atapnya bocor atau bergenting emas. Kalau Rockefeller menyanggupi membayar uang sewanya, siapa saja bersedia memberikan pinjaman untuk mengurusi rumah itu. Keadaan itu berlaku pula untuk kapal-kapal Onasssis.
Prinsip ini sekarang lumrah sekali. Prinsip inilah dasar segala investasi pembangunan real-estate. Bila seorang meminjam uang untuk suatu bangunan bisnis, bank sebenarnya meminjamkan uangnya kepada penyewa bangunan itu. Merekalah yang akan mengembalikan uangnya, terkecuali bangunan itu milik seorang penanam modal. Prinsip ini pada zaman Onassis tergolong revolusioner, dan keorisinal gagasan Onassis patut dipuji karena sebagian besar pemilik kapal Yunnai pada waktu itu berpegang pada prinsip: Mau dapat kapal, bayar uang kontan. Walaupun ia seorang inovator sejauh ia tidak menggunakan metode-metode para pesaingnya, ia bukanlah penemu OPM, walaupun mungkin ia menyatakan begitu.
Konsep ini lahir dari otak Daniel Ludwig, seorang usahawan Amerika yang kaya. Dia telah mulai menanamkan uang dalam kapal armadanya bahkan jauh lebih unggul daripada milik Onassis dan kemudian beralih ke usaha real estate. Sudah sejak tahun 1930-an Ludwig mengembangkan apa yang kelak menjadi praktek biasa di mana-mana. Gagasan itu muncul dalam benaknya setelah sebuah Bank menolak permintaannya untuk meminjam uang yang akan digunakannya untuk membeli kapal dan merombaknya menjadi kapal tangki. Onassis meninggal pada tanggal 15 Maret 1975, tapi dalam menjelang akhir hayatnya ia minta kepada salah satu akuntannya apakah ia dapat mengatakan besarnya keuntungan yang dimilikinya secara cepat dengan pembulatan ke angka sepuluh dolar. Mampukah akuntan suruhannya itu membulatkannya? mari, berpetualanglah mencari jawabannya...

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Jumat, 21 Oktober 2011

Nasehat Edmund Hillary

Penakluk pertama Mount Everest,puncak tertinggi dunia di Pegunungan Himalaya, Sir Edmund Hillary, pernah ditanya wartawan apa yang paling ditakutinya dalam menjelajah alam. Dia lalu mengaku tidak takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa, atau padang pasir yang luas dan gersang sekali pun! Lantas apa? “Sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari kaki,” kata Hillary. Wartawan heran, tetapi sang penjelajah melanjutkan kata-katanya, “Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama jari kaki terkena infeksi, lalu membusuk.Tanpa sadar, kaki pun tak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu.”

    Harimau, buaya, dan beruang meski buas adalah binatang yang secara naluriah takut menghadapi manusia. Sedang menghadapi jurang yang dalam dan ganasnya padang pasir, seorang penjelajah sudah punya persiapan memadai. Tetapi, jika menghadapi sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah tak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya. 
    Apa yang dinyatakan Hillary, kalau kita renungkan, sebetulnya sama dengan orang yang mengabaikan dosa-dosa kecil. Orang yang malakukan dosa kecil –misalnya mencoba-coba mencicipi minuman keras atau membicarakan keburukan orang lain– sering menganggap hal itu adalah dosa yang kecil. Karena itu, banyak orang yang kebablasan melakukan dosa-dosa kecil sehingga lambat laun jadi kebiasaan. Kalau sudah jadi kebiasaan, dosa kecil itu pun akan berubah jadi dosa besar yang sangat membahayakan dirinya dan masyarakat.

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Charice Pempengco (Menemukan Potensi Terpendam)

Sangat sedikit anak seperti Charice yang mampu mewujudkan mimpinya bertemu dengan tokoh pujaannya. Kebanyakan anak-anak kita hanya bisa memiliki impian sebelum akhirnya mati atau dimatikan karena kurangnya pengetahuan orang tua dan guru untuk menggali dan menemukan potensi mereka.
Nama lengkap Charmaine Clarice Relucio Pempengco adalah anak dari keluarga miskin di Philipina, ibunya bekerja di pabrik tekstil dengan penghasilan minim, sehingga Charice kecil harus membantu ibunya setiap saat untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk menghibur diri, tidak jarang Cahrice bernyanyi, lagu favoritnya adalah “My heart will go on” yang dipopulerkan oleh penyanyi terkenal Celine Dion. Suaranya yang merdu membuat keluarganya, terutama ibunya sering tertipu saat Charice melantunkan lagu tersebut, mereka menyangka bahwa suara merdu itu berasal dari radio atau kaset.
Menyadari bakat terpendambya, ibunya mengusulkan agar Charice ikut konteks menyanyi, tetapi semua orang mencibirnya, maklum saja Charice yang berasal dari keluarga miskin dianggap tidak layak menjadi bintang. Postur dan wajahnya juga dianggap tidak mendukung. Sebagian guru dan teman-temannya malah menganjurkan agar Charice mengubur mimpinya menjadi menjadi bintang penyanyi terkenal dan sebaiknya berkonsetrasi membantu ibunya bekerja kasar agar keluarganya bisa bertahan hidup.
Tapi, ibunya sadar akan potensi dan keinginan besar anaknya. Suara merdunya begitu jernih sejernih keinginan kuat Charice untuk membasuh pandangan sinis orang-orang yang melecehkannya. “Saya hanya ingin membuktikan mereka semua salah menilai saya” demikian ucapannya saat dirinya diundang sebagai tamu pada reality show terkenal Oprah Winfrey sebagai salah satu anak berbakat di dunia.
Waktu berjalan dan visi kuatnya menjadi penyanyi terkenal terus bergelora. Bakat terpendamnya akhirnya ditemukan dan diasah oleh David Foster, produser musik terkenal kelas dunia di bawah naungan Warner Bros. Melalui Foster, mutiara terpendam Charice dapat diangkat dipisahkan dari lumpur pekat yang menyelimutinya. Akhirnya, ia merilis debut albumnya pada tahun 2009 dan langsung pada bulan september tahun yang sama, dia juga diundang langsung oleh bintang pujaannya Celine Dion untuk berduet bersama dalam sebuah konser kelas dunia.
Impian kecil Charice hanyalah sebuah titik kecil dari ribuan bahkan jutaan titik-titik yang dimiliki oleh anak-anak lainnya. Impian mereka terkadang begitu sederhana, namun sering kali layu sebelum tumbuh. Impian kecil harus dipupuk dan disemai di tempat yang baik agar dapat tumbuh menjadi besar, sebesar harapan akan masa depan yang lebih baik. Siapa mereka? Anak-anak sebagai generasi yang akan datang adalah harapan semua, untuk itu persiapkanlah mereka untuk menghadapi perubahan. Mengisi kehidupan ini sebagai pemimpi yang layak untuk dirinya karena mimpinya itu. Charice berhasil menyingkirkan segala penghalang impiannya untuk tumbuh, ia berhasil dengan dukungan orang terdekatnya, yaitu IBU.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Kamis, 20 Oktober 2011

Hasrat Untuk Berubah

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia.

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.

Oleh karena itu, cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.

Namun, tampaknya hasrat itu pun tiada hasilnya.
Ketika usiaku semakin senja dengan semangatku yang masih tersisa,
kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.

Tetapi, celakanya,
mereka pun tidak mau diubah!

Dan kini,
sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
tiba-tiba aku sadari:
andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
mungkin aku bisa mengubah keluargaku.
Lalu, berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku,

kemudian, siapa tahu aku bahkan bisa mengubah dunia !”

Pedagang Kaki Lima (Masalah yang Tak Berujung)

Pedagang kaki lima (PKL) adalah masalah yang tak kunjung usai. Hampir semua kota-kota besar, kabupaten hingga kecamatan menghadapinya. Ibarat belukar di tengah taman, setiap kali dibersihkan tak lama berselang muncul kembali. Mengapa masalah ini terus berulang dari waktu ke waktu? Tidak adakah solusi yang tepat setelah sekian lama? Tidak mampukah para penentu kebijakan negeri ini menjadikan PKL serta sektor informal lainnya duduk bersanding dengan sektor formal? Ada setumpuk pertanyaan yang bisa diajukan sehubungan dengan masalah ini?
Entah apakah ketidaktahuan atau memang karena tidak mau peduli, masalah PKL selalu menjadi titik laten seperti api dalam sekam. Ketidaktuntasan masalah hingga ke akar-akarnya membuat setiap langkah untuk memberangusnya menjadi tindakan yang kontraproduktif. Lihat saja tindakan yang dipilih sangat rentan memicu konflik, baik horisontal maupun vertikal.
Satpol PP yang menjadi tangan pemerintah sering menjadi momok menyeramkan bagi PKL. Sering kita lihat dan saksikan kericuhan, pertengkaran, tarik ulur, adu mulut, lempar batu hingga pertumpahan darah terjadi. Satpol PP sebagai petugas lapangan yang berhadapan langsung dengan PKL sebenarnya seperti buah simalakama. Di sisi lain harus menjalankan tugas, sedangkan pada sisi lain aspek kemanusiaan menjadi taruhannya. Kemungkinan besar yang harus mereka gususr adalah tetangga atau sanak saudara mereka sendiri.
Secara vertikal, konflik juga rentan terjadi disaat pihak berwajib melakukan tebang pilih kepada pihak-pihak tertentu. Beberapa kios-kios besar permanen yang sebenarnya melanggar aturan tetap dibiarkan, sedangkan yang kecil tidak berdaya harus meradang karena razia mendadak. Kondisi ini sering mengundang reaksi dari berbagai elemen masyarakat. Saling tuntut kerap terjadi, tetapi ujung-ujungnya tetap tak dapat menyelesaikan masalah.
Yang dibutuhkan adalah sebuah tegakkan peraturan, namun di sisi lain tetap memberi tempat bagi rasa keadilan kepada PKL. Bukankah aktivitas mereka merupakan bentuk nyata dari ekonomi rakyat?
Intinya, para pemimpin yang menjadi penentu kebijakan haruslah memiliki visi dan komitmen yang tinggi untuk menangani masalah ini hingga ke akar-akarnya. Jika tidak, terobosan yang merupakan solusi tidak akan pernah bisa dihasilkan sampai dunia kiamat sekali pun. Dan itu berarti PKL akan tetap hidup dengan rasa was-was dan ketidakadilan. Apakah itu yang menjadi Tujuan mimpi mereka???

Sumber: diolah dari berbagai sumber


Senin, 17 Oktober 2011

Adolf Hitler (Hilangnya Sentuhan Kasih Sayang Orang Tua)


Siapa tak kenal Adolf hitler (1889-1945), pemimpin Nazi yang melakukan genosida besar-besaran terhadap kaum Yahudi. Hitler membangun kekuasaannya di atas linangan air mata ribuan manusia. Mengapa Hitler tega berbuat sekeji itu? Tentu abanyak argumen yang dapat dihadirkan, namun Alice Miller (1985) dalam bukunya “For Your Own Good: Hidden Cruetlty in Child-rearing and the Roots of Violence”, kondisi ini tidak lepas dari masa lalu Hitler yang demikian gelap.
Latar belakang keluarganya penuh kegetiran. Ayahnya terkenal sangat kejam, sementara ibunya digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya dalam melindungi anaknya. Setiap saat Hitler kecil menjadi bulan-bulanan sabetan ikat pinggang sang ayah. Berbagai tindakan kekerasan psikis juga dialami hitler, sang ayah juga sering melecehkan harga dirinya sebagai anak yang cengeng, lemah tak memiliki kekuatan.
Suatu ketika, dengan segenap daya upaya Hitler berusaha menahan tangis saat terjangan cambukan sang ayah menghujam tubuh kecilnya. Ia menghitung dalam hati ada 32 cambukan yang telah membuat sekujur tubuhnya lebam-lebam. Setelah itu Hitler bergegas menemui ibunya hanya untuk menceritakan dengan bangga kalau dirinya kini adalah anak yang kuat, tidak lagi menangis meski telah dicambuk berkali-kali oleh ayahnya.
Ibunya yang tak berdaya hanya dapat terperangah dengan linangan air mata. Setelah dewasa Hitler mengetahui ternyata ayahnya terlahir dari hasil hubungan gelap anatara neneknya dengan seorang pria Yahudi. Menurut analisa Alice Miller, tindakan Hitler yang tega mengahabisi ribuan kaum Yahudi adalah bentuk kebencian kepada ayahnya. Dalam alam bawah sadar Hitler tersimpan memori kebencian mendalam untuk melampiaskan dendamnya setiap saat.

Sumber: diolah dari berbagai sumber.

Kisah Sang Elang (Semua Membutuhkan Proses dan Pengorbanan)


Burung elang dianggap sebagai penguasa angkasa, posturnya gagah serta sorot matanya yang tajam semakin memperkuat argumen ini. Menurut penelitian, seekor Elang dapat hidup hingga hingga 70 tahun. Tapi, itu tidak mudah, ada syaratnya yang harus dilakukan, yaitu Sang Elang harus melakukan berbagai perubahan dalam hidupnya.
Saat mencapai usia 40 tahun, seekor Elang akan mengalami beberapa masalah alamiah dalam hidupnya, yaitu paruhnya akan memanjang hingga dapat menyentuh dadanya, cakarnya juga akan semakin tua sehingga daya cengkramannya berkurang, sedangkan bulu sayapnya akan makin tebal sehingga menghambatnya untuk terbang tinggi. Jika kondisi ini dibiarkan, bisa dipastikan Sang Elang tidak akan gesit lagi mendapatkan mangsa sehingga kelangsungan hidupnya di ujung tanduk.
Untuk mengatasi kondisi di atas, Sang Elang hanya punya dua pilihan, yaitu mati kelaparan atau memilih perubahan yang menyakitkan. Pilihan kedua jelas membutuhkan keberanian. Bayangkan saja, untuk menjalani proses tersebut Sang Elang harus terbang setinggi gunung kemudian menukik dengan kecepatan tinggi untuk membenturkan paruhnya yang panjang ke bebatuan hingga patah. Cakarnya serta bulu sayapnya yang lebat pun harus dicabuti satu persatu. Selama proses tersebut Sang Elang harus bisa menahan sakit dalam waktu beberapa bulan. Tetapi, dengan menjalaninya Sang Elang dapat bertahan hidup hingga 30 tahun ke depan.
Proses perubahan yang dialami Sang Elang tentu saja tidak mudah, namun untuk sesuatu yang lebih baik di masa depan selalu membutuhkan pengorbanan.

Sumber: diolah dari berbagai sumber.

Visi Kepemimpinan (Menjawab Tantangan Perubahan)

Perspektif kepemimpinan memang tidak pernah kering untuk digali. Pengaruhnya demikian kuat sehingga menjadi kunci bagi gerbang eksistensi peradaban. Tidak dapat dipungkiri, kepemimpinan yang berkualitas yang sanggup menjadi jawaban bagi setiap umat manusia di mana pun mereka berada.
Di bawah ini ada beberapa prinsip kualitas kepemimpinan yang seharusnya dimiliki sebagai kunci dalam mengarungi samudera perubahan yang rentang dengan berbagai krisis, yaitu:
prisip pertama. Kepemimpinan harus jauh dari berprasangka buruk terhadap siapa pun, apalagi terhadap masyarakat dan para pemimpin lainnya. Sikap seperti ini harus dijadikan sebagai kekuatan mental seorang pemimpin dalam membangun dan melayani semua level yang dipimpinnya.
Prinsip kedua. Kepemimpinan harus menjadi sumber kekuatan batin untuk bergerak, bersenergi dalam sebuah manajemen yang baik agar amanah yang diemban dari masyarakat dapat dipertanggung jawabkan.
Prinsip ketiga. Kepemimpinan harus berfun gsi sebagai sumber mata air kebijaksanaan, mengayomi semua aspek dalam kehidupan masyarakat.
Prinsip keempat. Kepemimpinan harus menjadi pembersih pikiran negatif. Harus mampu menularkan sikap optimistis kepada siapa pun agar mampu melihat setiap kesempatan meskipun dalam masa krisis.
Prinsip kelima. Kepemimpinan harus berfungsi sebagai energi vital, harus mampu menjadi daya pendobrak agar mendorong masyarakat tumbuh dan berkembang untuk kehidupan yang lebih baik.
Prinsip keenam. Kepemimpinan harus menjadi kesadaran spiritual, menjadi amanah yang harus dipikul oleh setiap manusia. Prinsip ini mengacu pada realitas bahwa sesungguhnya setiap manusia adalah pemimpin di muka bumi ini. Minimal menjadi pemimpin dalam entitas terkecil, yaitu keluarga dan diri sendiri.
Prinsip ketujuh. Kepemimpinan harus jauh dari sikap serakah. Keserakahan hanya akan mendorong seseorang untuk mendahulukan kepentingan diri dan kelompoknya sehingga menimbulkan ketimpangan dalam masyarakat. Sikap ini harus dihindari agar tidak berunjung kehancuran.
Prinsip kedelapan. Kepemimpinan mendorong hidup sederhana. Artinya, seseorang pemimpin akan “kenyang paling belakang dan lapar paling awal”. Ia rela menjadi benteng terakhir keutuhan masyarakat yang dipimpinnya. Kesederhanaan dan kebersahajaan justru akan menguatkan dan membuat bawahannya menjadi respek.
Prinsip kesembilan. Kepemimpinan yang terbuka terhadap semua situasi dan kondisi masyarakat. Sikap terbuka akan memberikan solusi yang lebih baik, membuat mata tidak buta akan realitas yang dihadapi. Dengan demikian, diharapkan mampu mengakomodasi kepentingan orang di sekelilingnya.
Prinsip kesepuluh. Kepemimpinan harus menjadi saka guru kebajikan. Jika kondisi ini bisa diaktualisasikan, maka sinar terang kehidupan bisa disebar kepada seluruh elemen masayarakat. Kebajikan akan menjadi nilai utama masyarakat sehingga tidak memberi cela bagi segala bentuk kecurangan dan kemaksiatan. Masyarakat akan mendapatkan rasa damai sebagai bagian dari hak asasinya.
Prinsip kesebelas. Kepemimpinan sebagai penyempurna kultur. Kepemimpinan selalu hadir untuk menghancurkan kultur lama yang tidak sesuai dengan tuntutan perub ahan. Kepemimpinan menyingkirkan dan menyempurnakan kultur untuk melayani kehidupan agar tumbuh di bawah payung kesejahteraan bersama.
Prinsip keduabelas. Kepemimpinan sebagai sumber sukses. Inti kepemimpinan adalah tindakan, jadi jangan pernah mengharapkan kesuksesan akan hadir dalam kehidupan orang-orang yang tidak melakukan apa-apa dalam hidupnya. Seorang pemimpin dapat menjadi sumber inspirasi dari kisah-kisah sukses dan heroiknya, mereka bertindak menerjang krisis dengan visi di pundaknya. 

Sumber: The Servant A Simple Story About the True Essence of Leadership, James C. Hunter (1998).

Jumat, 14 Oktober 2011

Pendidikan dan Mimpi Suksesnya



Seorang calon pendidik hanya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik jika memperoleh jawaban yang jelas dan benar tentang apa yang dimaksudkan dengan pendidikan. Jawaban yang benar tentang pendidikan diperoleh melalui pemahaman terhadap unsur-unsurnya, konsep dasar yang melandasinya, dan wujud pendidikan sebagi sistem.
A. PENGERTIAN PENDIDIKAN
1. Batasan tentang Pendidikan
Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.
a. Pendidikan sebagai Proses transformasi Budaya.
Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.
b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi.
Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri. 
c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara. 
Pendidikan sebagai penyiapan warganegara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik. 
d. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja
Pendidikan sebagai penyimpana tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia. 
e. Definisi Pendidikan Menurut GBHN.
GBHN 1988(BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan nasiaonal yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk memingkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. 
2. Tujuan dan proses Pendidikan
a. Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dazn merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.
b. Proses pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal. 
3. Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)
PSH bertumpu pada keyakinan bahwa pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan, PSH merupakan sesuatu proses berkesinambungan yang berlangsung sepanjang hidup. Ide tentang PSH yang hampir tenggelam, yang dicetuskan 14 abad yang lalu, kemudian dibangkitkan kembali oleh comenius 3 abad yang lalu (di abad 16). Selanjutnya PSH didefenisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan. Pengorganisasian dan penstruktursn ini diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari usia yang paling muda sampai paling tua.(Cropley:67).
Berikut ini merupakan alasan-alasan mengapa PSH diperlukan: Rasional, Alasan keadilan, Alasan ekonomi, Alasan faktor sosial yang berhubungan dengan perubahan peranan keluarga, remaja, dan emansipasi wanita dalam kaitannya dengan perkembangan iptek, Alasan perkembangan iptek dan Alasan sifat pekerjaan. 
4. Kemandirian dalam belajar
a. Arti dan perinsip yang melandasi
Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong oleh kamauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari pembelajaran. Konsep kemandirian dalam belajar bertumpu pada perinsip bahwa individu yang belajar akan sampai kepada perolehan hasil belajar.
b. Alasan yang menopang
Conny Semiawan, dan kawan-kawan (Conny S. 1988; 14-16) mengemukakan alasan sebagai berikut:
  • Perkembangan iptek berlangsung semakin pesat sehingga tidak mungkin lagi para pendidik(khususnya guru) mengajarkan semua konsep dan fakta kepada peserta didik.
  • Penemuan iptek tidak mutlak benar 100%, sifatnya relatif.
  • Para ahli psikologi umumnya sependapat, bahwa peserta didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkret dan wajar sesuai dengan situasi dan kondidi yang dihadapi dengan mengalami atau mempraktekannya sendiri.
  • Dalam proses pendidikan dan pembelajaran pengembangan konsep seyogyanya tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan penanaman nilai-nilai ke dalam diri peserta didik.
B. UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN
Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu:
1. Subjek yang dibimbing (peserta didik).
2. Orang yang membimbing (pendidik)
3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
7. Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)
Penjelasan:
1. Peserta Didik
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya.
Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah:
a. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.
b. Individu yang sedang berkembang.
c. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
d. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.
2. Orang yang membimbing (pendidik)
Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkunga yaitu lingkungankeluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masayarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan, dan masyarakat.
3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi isi, metode, serta alat-alat pendidikan.
4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
a. Alat dan Metode
Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara khusus alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat pendidikan dibedakan atas alat yang preventif dan yang kuratif.
b. Tempat Peristiwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan)
Lingkungan pendidikan biasanya disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
C. PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM
1. Pengertian Sistem
Beberapa definisi sitem menurut para ahli: 
  • Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh. (Tatang M. Amirin, 1992:10). 
  • Sistem meruapakan himpunan komponen yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan. (Tatang Amirin, 1992:10). 
  • Sistem merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang terorganisasikan dan berkaitan sesuai rencana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. (Tatang Amirin, 1992:11).
2. Komponen dan Saling Hubungan antara Komponen dalam Sistem Pendidikan.
Pendidikan sebagai sebuah sistem terdiri dari sejumlah komponen. Komponen tersebut antara lain: raw input (sistem baru),output(tamatan), instrumentalinput(guru, kurikulum), environmental input (budaya, kependudukan, politik dan keamanan).
3. Hubungan Sistem Pendidikan dengan Sitem Lain dan Perubahan Kedudukan dari Sistem. 
Sistem pendidikan dapat dilihat dalam ruang lingkup makro. Sebagai subsistem, bidang ekonomi, pendidikan,dan politik masing-masing-masing sebagai sistem. Pendidikan formal, nonformal, dan informal merupakan subsistem dari bidang pendidikan sebagai sistem dan seterusnya. 
4. Pemecahan masalah pendidikan secara sistematik.
a. Cara memandang sistem
Perubahan cara memandang suatu status dari komponen menjadi sitem ataupunsebaliknya suatu sitem menjadi komponen dari sitem yang lebih besar, tidak lain daripada perubahan cara memandang ruang lingkup suatu sitem atau dengan kata lain ruang lingkup suatu permasalahan.
b. Masalah berjenjang
Semua masalah tersebut satu sama lain saling berkaitan dalam hubungan sebab akibat, alternatif maslah, dan latar belakang masalah.
c. Analisis sitem pendidikan
Penggunaan analisis sistem dalam pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dengan cara yang efesien dan efektif. Prinsip utama dari penggunaan analisis sistem ialah: bahwa kita dipersyaratkan untuk berpikir secra sistmatik, artinya harus memperhitungkan segenap komponen yang terlibat dalam maslah pendidikan yang akan dipecahkan.
d. Saling hubungan antarkomponen
Komponen-komponen yang baik menunjang terbentuknya suatu sistem yang baik. Tetapi komponen yang baik saja belum menjamin tercapainya tujuan sistem secara optimal, manakala komponen tersebut tidak berhibungan secra fungsional dengan komponen lain.
e. Hubungan sitem dengan suprasistem
Dalam ruang lingkup besar terlihat pula sistem yang satu saling berhubungan dengan sistem yang lain. Hal ini wajar, oleh karena pada dasarnya setiap sistem itu hanya merupakan satu aspek dari kehidupan. Sdangkan segenap segi kehidupan itu kita butuhkan, sehingga semuanya memerlukan pembinaandan pengembangan.
5. Keterkaitan antara pengajaran dan pendidikan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari persoalan pengajaran dan pendidikan adalah:
a. Pengajaran dan pendidikan dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Masing-masing saling mengisis.
b. Pembedaan dilakukan hanya untuk kepentingan analisis agar masing-masing dapat dipahami lebih baik.
c. Pendidikan modern lebih cenderung mengutamakan pendidikan, sebab pendidikan membentuk wadah, sedangkan pengajaran mengusahakan isinya. Wadah harus menetap meskipun isi bervariasi dan berubah. 
6. Pendidikan prajabatan (preservice education) dan pendidikan dalam jabatan (inservice education) sebagai sebuah sistem. 
Pendidikan prajabatan berfungsi memberikan bekal secara formal kepada calon pekerja dalam bidang tertentu dalam periode waktu tertentu. Sedangkan pendidikan dalam jabatan bermaksud memberikan bekal tambahan kepada oramg-orang yang telah bekerja berupa penataran, kursus-kursus, dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan prajabatan hanya memberikan bekal dasar, sedangkan bekal praktis yang siap pakai diberikan oleh pendidikan dalam jabatan.
7. Pendidikan formal, non-formal, dan informal sebagai sebuah sistem. 
Pendidikan formal yang sering disebut pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pedidikan yang telah baku, misalnya SD,SMP,SMA, dan PT. Pendidikan nonformal lebih difokuskan pada pemberian keahlian atau skill guna terjun ke masyarakat. Pendidikan informal adalah suatu fase pendidikan yang berada di samping pendidikan formal dan nonformal.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal, nonformal, dan informal ketiganya hanya dapat dibedakan tetapi sulit dipisah-pisahkan karena keberhasilan pendidikan dalam arti terwujudnya keluaran pendidikan yang berupa sumberdaya manusia sangat bergantung kepada sejauh mana ketiga sub-sistem tersebut berperanan.

Sumber Bacaan: Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Labels

Konten

View My Stats