Timer

Senin, 17 Oktober 2011

Visi Kepemimpinan (Menjawab Tantangan Perubahan)

Perspektif kepemimpinan memang tidak pernah kering untuk digali. Pengaruhnya demikian kuat sehingga menjadi kunci bagi gerbang eksistensi peradaban. Tidak dapat dipungkiri, kepemimpinan yang berkualitas yang sanggup menjadi jawaban bagi setiap umat manusia di mana pun mereka berada.
Di bawah ini ada beberapa prinsip kualitas kepemimpinan yang seharusnya dimiliki sebagai kunci dalam mengarungi samudera perubahan yang rentang dengan berbagai krisis, yaitu:
prisip pertama. Kepemimpinan harus jauh dari berprasangka buruk terhadap siapa pun, apalagi terhadap masyarakat dan para pemimpin lainnya. Sikap seperti ini harus dijadikan sebagai kekuatan mental seorang pemimpin dalam membangun dan melayani semua level yang dipimpinnya.
Prinsip kedua. Kepemimpinan harus menjadi sumber kekuatan batin untuk bergerak, bersenergi dalam sebuah manajemen yang baik agar amanah yang diemban dari masyarakat dapat dipertanggung jawabkan.
Prinsip ketiga. Kepemimpinan harus berfun gsi sebagai sumber mata air kebijaksanaan, mengayomi semua aspek dalam kehidupan masyarakat.
Prinsip keempat. Kepemimpinan harus menjadi pembersih pikiran negatif. Harus mampu menularkan sikap optimistis kepada siapa pun agar mampu melihat setiap kesempatan meskipun dalam masa krisis.
Prinsip kelima. Kepemimpinan harus berfungsi sebagai energi vital, harus mampu menjadi daya pendobrak agar mendorong masyarakat tumbuh dan berkembang untuk kehidupan yang lebih baik.
Prinsip keenam. Kepemimpinan harus menjadi kesadaran spiritual, menjadi amanah yang harus dipikul oleh setiap manusia. Prinsip ini mengacu pada realitas bahwa sesungguhnya setiap manusia adalah pemimpin di muka bumi ini. Minimal menjadi pemimpin dalam entitas terkecil, yaitu keluarga dan diri sendiri.
Prinsip ketujuh. Kepemimpinan harus jauh dari sikap serakah. Keserakahan hanya akan mendorong seseorang untuk mendahulukan kepentingan diri dan kelompoknya sehingga menimbulkan ketimpangan dalam masyarakat. Sikap ini harus dihindari agar tidak berunjung kehancuran.
Prinsip kedelapan. Kepemimpinan mendorong hidup sederhana. Artinya, seseorang pemimpin akan “kenyang paling belakang dan lapar paling awal”. Ia rela menjadi benteng terakhir keutuhan masyarakat yang dipimpinnya. Kesederhanaan dan kebersahajaan justru akan menguatkan dan membuat bawahannya menjadi respek.
Prinsip kesembilan. Kepemimpinan yang terbuka terhadap semua situasi dan kondisi masyarakat. Sikap terbuka akan memberikan solusi yang lebih baik, membuat mata tidak buta akan realitas yang dihadapi. Dengan demikian, diharapkan mampu mengakomodasi kepentingan orang di sekelilingnya.
Prinsip kesepuluh. Kepemimpinan harus menjadi saka guru kebajikan. Jika kondisi ini bisa diaktualisasikan, maka sinar terang kehidupan bisa disebar kepada seluruh elemen masayarakat. Kebajikan akan menjadi nilai utama masyarakat sehingga tidak memberi cela bagi segala bentuk kecurangan dan kemaksiatan. Masyarakat akan mendapatkan rasa damai sebagai bagian dari hak asasinya.
Prinsip kesebelas. Kepemimpinan sebagai penyempurna kultur. Kepemimpinan selalu hadir untuk menghancurkan kultur lama yang tidak sesuai dengan tuntutan perub ahan. Kepemimpinan menyingkirkan dan menyempurnakan kultur untuk melayani kehidupan agar tumbuh di bawah payung kesejahteraan bersama.
Prinsip keduabelas. Kepemimpinan sebagai sumber sukses. Inti kepemimpinan adalah tindakan, jadi jangan pernah mengharapkan kesuksesan akan hadir dalam kehidupan orang-orang yang tidak melakukan apa-apa dalam hidupnya. Seorang pemimpin dapat menjadi sumber inspirasi dari kisah-kisah sukses dan heroiknya, mereka bertindak menerjang krisis dengan visi di pundaknya. 

Sumber: The Servant A Simple Story About the True Essence of Leadership, James C. Hunter (1998).

0 komentar:

Posting Komentar

Labels

Konten

View My Stats