Siapa tak kenal Adolf hitler (1889-1945), pemimpin Nazi yang melakukan genosida besar-besaran terhadap kaum Yahudi. Hitler membangun kekuasaannya di atas linangan air mata ribuan manusia. Mengapa Hitler tega berbuat sekeji itu? Tentu abanyak argumen yang dapat dihadirkan, namun Alice Miller (1985) dalam bukunya “For Your Own Good: Hidden Cruetlty in Child-rearing and the Roots of Violence”, kondisi ini tidak lepas dari masa lalu Hitler yang demikian gelap.
Latar belakang keluarganya penuh kegetiran. Ayahnya terkenal sangat kejam, sementara ibunya digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya dalam melindungi anaknya. Setiap saat Hitler kecil menjadi bulan-bulanan sabetan ikat pinggang sang ayah. Berbagai tindakan kekerasan psikis juga dialami hitler, sang ayah juga sering melecehkan harga dirinya sebagai anak yang cengeng, lemah tak memiliki kekuatan.
Suatu ketika, dengan segenap daya upaya Hitler berusaha menahan tangis saat terjangan cambukan sang ayah menghujam tubuh kecilnya. Ia menghitung dalam hati ada 32 cambukan yang telah membuat sekujur tubuhnya lebam-lebam. Setelah itu Hitler bergegas menemui ibunya hanya untuk menceritakan dengan bangga kalau dirinya kini adalah anak yang kuat, tidak lagi menangis meski telah dicambuk berkali-kali oleh ayahnya.Ibunya yang tak berdaya hanya dapat terperangah dengan linangan air mata. Setelah dewasa Hitler mengetahui ternyata ayahnya terlahir dari hasil hubungan gelap anatara neneknya dengan seorang pria Yahudi. Menurut analisa Alice Miller, tindakan Hitler yang tega mengahabisi ribuan kaum Yahudi adalah bentuk kebencian kepada ayahnya. Dalam alam bawah sadar Hitler tersimpan memori kebencian mendalam untuk melampiaskan dendamnya setiap saat.
Sumber: diolah dari berbagai sumber.



3 komentar:
Ternyata Pengalaman masa kecil itu tersimpan dalam alam bawah sadar anak2 sampai mereka menjadi dewasa...
iya... sebab pertumbuhan anak itu diawali dari apa yang dialaminya sehingga itu menjadi pegangan yang tak mungkin akan dilupakan...
adakah anak itu mempunyai rasa pendendam? bukankah anak-anak itu masih tetap akan berubah,.. jadi apa yang dirasakan waktu kecil tentu dengan sendirinya juga akan hilang sesuai berubahnya waktu.terutama faktor lingkunga???
Posting Komentar