
Tak ada waktu yang akan berhenti, jika manusia masih bernafas. Manusia dan dunia tidak lebih dari debu yang ditiup oleh angin. Semakin kencang ditiupnya semakin itu pula membuatnya tidak terlihat. Sembunyi adalah keinginannya. Akhirnya manusia dan hidup selalu bertentangan. Masalah dan ancaman menjadi inti semua itu. Hidup seolah hanya ruang dan waktu berdiskusi untuk mencari jawaban dan memunculkan kembali persoalan. Lihatlah Ibu, Ibu, ini anakmu. Engkau adalah jawaban itu. Engkau dan rahimmu adalah penderitaan bagi hidup yang baru, kesengsaraan bagi suatu penghiburan, penderitaan yang ditanggung bukan untuk kebahagian milikmu. Terima kasih Ibu.
Banyak dari sekian persoalan selalu diselesaikan dengan mencari inti permasalahannya. apakah itu ideologinya? Manusia semakin dibinggungkan dengan perkembangan yang hadir dewasa ini. Kehadiran isu Globalisasi dengan peradabannya yang semakin mengganggu dan memporandakan keharmonisan hidup membuat manusia berada dalam dua ruang, yakni: sendiri (individual) atau bersama (kelompok).
Intinya, kebahagiaan selalu dicari-cari sebagai akhir dari penderitaan yang ada. Manusia semakin dibodohi oleh dirinya sendiri. Kesendirian (individualitas) dipilih bagi mereka yang merasa sebagai yang kecil dan kebersamaan (kelompok) dipilih oleh mereka yang mengganggap mereka besar. Tetapi, semua itu hanya kesia-siaan belaka. Mengapa? Penderitaan tak dapat dipungkiri oleh setiap manusia. Setiap manusia pernah dan akan merasakan apa itu penderitaan. Manusia yang membohongi dirinya terhadap penderitaan adalah Tuhan dari ciptaannya sendiri.
Perempuan, adalah sosok makhluk yang terpilih dari dua pribadi manusia yang berbeda dan memiliki impian. Impian tentang kehidupan Pluralisnya, kelemahannya, penderitaannya, semangatnya, dan terkhususnya "anak". Anak adalah impian setiap manusia perempuan, tanpa anak seorang manusia perempuan akan termarginal karena situasi, keadaan dan adat yang berlaku. Anak adalah jawaban atas impian itu. Untuk menjawabnya saya mencoba memberikan gambaran tentang konsep "Rahim Ibu".
Konsep melihat penderitaan dari rahim Ibu adalah pikiran yang ingin disampaikan sebagai ungkapan menyadari penderitaan sebagai bagian dari hidup. Ibu dilambangkan sebagai Dunia ini. Rahim dilambangkan sebagai situasi yang berkembang dalam ruang waktu dan Anak adalah manusia itu sendiri.
Dalam proses bertalian ke-tiga aspek tersebut Ibu - Rahim - Anak di dalam hubungan ini yang paling berperan penting adalah Anak. mengapa? Ibu sebagai dunia, berdiri sebagai pemberi dan penanggung hidup itu. Semua yang terjadi ditanggung tanpa memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Rahim adalah proses yang berjalan sesuai perubahan yang terjadi pada Ibu (dunia), jika rahim ibu memasuki fase mengandung sampai melahirkan akan terjadi berbagai macam perobahan di sinilah letak tempatnya sebagai proses dalam ruang dan waktu. Sedangkan, anak adalah manusia itu sendiri sebagai tokoh utama yang hidup dan berada dalam kesenangan dan penghiburan yang didapat bukan karena miliknya sendiri tetapi semua itu adalah penderitaan milik ibunya (dunia) sendiri. Intinya: semakin manusia tak melihat penderitaan ini dari sosok yang melahirkannya, manusia akan sulit untuk menyelesaikan penderitaan itu, karena dia hidup dan memiliki hidup itu bukan karena kekuatannya sebagai pencipta tetapi manusia adalah ciptaan. Dunialah yang menciptakan manusia, seharusnya manusia mesti menghargai dan menjaganya sebagai Ibu yang melahirkannya. Dunia adalah Ibumu, Rahimnya adalah proses membentuk karakter manusia terhadap dunia ini dan manusia sebagai anak semestinya menyadari semua itu.
Berbaliklah dan sadarlah manusia, marilah kita sayangilah alam dan dunia ini. Jauhilah sifat kemanusiaanmu yang men-tuhan-kan dirimu bagi dunia ini, sebab Dunia ini adalah Ibumu dan kita hanya adalah anaknya.
Sebagai indikasinya: manusia hidup akan mati tetapi dunia bertahan terus dan melahirkan terus anak-anaknya yang bergelut dalam ruang dan waktu sebagai "Ibu" bagi anak-anaknya. Ibu adalah sosok penting! dialah manusia perempuan yang menjadi impian bagi perbedaannya dengan manusia laki-laki. Sudah sejauh manakah kamu merenungi penderitaanmu? Dunia masih tetap memberikan kamu tempat? Ayo, janganlah berhenti bermimpi.


2 komentar:
oleh karena ketiga komponen ini saling berkaitan maka naluri seorang ibu itu lebih kuat kepada anaknya dibanding seorang ayah
@Herfin: Thanks,, Bersyukurlah karena kita terlahir dari Ibu???
Posting Komentar